suatu hari di musim dingin yang membeku, seorang petani miskin menemukan ular yang nyaris membeku di jalan setapak pegunungan. Merasa jatuh kasihan terhadap makhluk itu, petani itu pun membungkusnya di dalam mantelnya yang compang-camping dan dengan hati-hati membawanya pulang. Dia menghangatkan ular itu di depan perapiannya yang kecil dan memberinya makanan apapun yang bisa disediakannya. Dan ular itu pun perlahan-lahan bertambah kuat, sampai akhirnya ular itu benar-benar pulih. Lalu ular itu berbalik kepada si petani dan membenamkan racunnya yang mematikan ke tubuh si petani.”Kenapa?!” tanya petani tak percaya.” Aku telah menyelamatkanmu! memberimu yang terbaik yang kupunya! beginikah kau menunjukan terima kasihmu?!”. “Kenapa kau terkejut?” sahut ular beludak. “Itu sudah sifatku. Kau tahu siapa aku ketika kau menyelamatkanku!”.
“SENDIRIAN”
sepi, tak ada suara
mulut bungkam terbungkus suasana
sunyi, telingaku mengiang
merasa tua dan bosan sampai hilang kenangan
“GUNUNG”
Di puncak tertinggi
Tak ada kata-kata lagi
Habis dilahap pesona Ilahi
Hanya doa terucap dalam hati
“PESTA TOPENG”
raga-raga tak bersukma
menari tanpa irama
di atas aspal hitam
pas jam tujuh malam
tak ada tegur sapa
hanya senyum dingin terpaksa
yang habis dihisap jam kerja
delapan jam lamanya
tarian penuh curiga
di lantai dansa besi baja
bungkam tanpa kata
tutup mata dan telinga
duduk atau berdiri tak perduli
asal dengan selamat bisa sampai
kembali ke peraduan
untuk besok kembali bertemu tuan
“Sahabatku Pena”
Denganmu
Aku bisa goreskan sejuta cerita
Luka dan suka kita belai mesra bersama
Walau kau jauh dari bibirku yang terbata
Sampai bisu kan kuresapi warnamu dengan kata
Pesonamu
mampu runtuhkan gunung berselimut senyap
Rasaku padamu masih misteri untuk kuungkap
Jika memang jalanku bersamamu sampai nanti senja
Biarkan perlahan langkah ku jejakan,
sambil menggenggam harap
(H2C)
“Menolak Tunduk”
Setan! Iblis! kenapa kau tak juga mau menunduk padaku,
apa karena kau dibuat dari api yang selalu terang dalam gelap sehingga kau merasa mulia dibandingkan aku
yang hanya terbuat dari tanah, yang selalu diinjak-injak oleh kaumku sendiri, selalu menjadi sengketa, juga tempat tumpahnya darah, atas nama kebebasan, kemerdekaan,…perjuangan…
Setan! Iblis! kenapa hanya kau yang tak mau menunduk sedang para malaikat menunduk untuku
apa harus aku buatmu menunduk dalam sebuah pertempuran abadi kita itu. yang hanya akan memberikan pilihan buat kita jika itu terjadi, kau yang menunduk padaku atau aku yang menunduk untukmu……….
atau mungkin kita bersatu memuja Tuhan, atau melawanNya…….Tidak!
Tuhan berilah aku kekuatan,
perang sudah dimulai, di sini, di bulan ini….
selamat bertempur kawan-kawan, aku akan selalu ada disampingmu………
(sial, batal puasa gw ini hari)
“Padam Bergilir”
kuraih sebatang lilin om Chrisye
kuraba pemantik api dalam gelapnya ruang 4×4m persegi
terpercik api dari pemantik,
kudekatkan jilatan lidah api ke sumbu lilin, kemudian
cahaya renungan membawaku pergi,
pergi dari busuknya dunia, pergi dari kemunafikan,
pergi dari semua hingar-bingar, pergi dan bersembunyi,
sampai akhirnya terlintas gundah dalam hati,
Bangsat! mati lampu………