“ULAR BELUDAK”

suatu hari di musim dingin yang membeku, seorang petani miskin menemukan ular yang nyaris membeku di jalan setapak pegunungan. Merasa jatuh kasihan terhadap makhluk itu, petani itu pun membungkusnya di dalam mantelnya yang compang-camping dan dengan hati-hati membawanya pulang. Dia menghangatkan ular itu di depan perapiannya yang kecil dan memberinya makanan apapun yang bisa disediakannya. Dan ular itu pun perlahan-lahan bertambah kuat, sampai akhirnya ular itu benar-benar pulih. Lalu ular itu berbalik kepada si petani dan membenamkan racunnya yang mematikan ke tubuh si petani.”Kenapa?!” tanya petani tak percaya.” Aku telah menyelamatkanmu! memberimu yang terbaik yang kupunya! beginikah kau menunjukan terima kasihmu?!”. “Kenapa kau terkejut?” sahut ular beludak. “Itu sudah sifatku. Kau tahu siapa aku ketika kau menyelamatkanku!”.

Published in:  on October 13, 2009 at 4:57 pm Leave a Comment

“MASIH ADA”

Hari sudah senja

Bara masih nyala

Apa daya raga tua

Sebentar lagi tutup mata

Published in:  on September 18, 2009 at 7:08 am Leave a Comment

“SENDIRIAN”

sepi, tak ada suara

mulut bungkam terbungkus suasana

sunyi, telingaku mengiang

merasa tua dan bosan sampai hilang kenangan

Published in:  on September 17, 2009 at 8:32 pm Leave a Comment

“GUNUNG”

Di puncak tertinggi

Tak ada kata-kata lagi

Habis dilahap pesona Ilahi

Hanya doa terucap dalam hati

Published in:  on August 30, 2009 at 2:38 pm Leave a Comment

“PESTA TOPENG”

raga-raga tak bersukma

menari tanpa irama

di atas aspal hitam

pas jam tujuh malam

tak ada tegur sapa

hanya senyum dingin terpaksa

yang habis dihisap jam kerja

delapan jam lamanya

tarian penuh curiga

di lantai dansa besi baja

bungkam tanpa kata

tutup mata dan telinga

duduk atau berdiri tak perduli

asal dengan selamat bisa sampai

kembali ke peraduan

untuk besok kembali bertemu tuan

Published in:  on December 18, 2008 at 8:33 am Comments (1)

“TAKUT SALAH”

Published in:  on at 8:17 am Leave a Comment

“Perfectionist”

Practice makes me perfect,

and

Perfection makes me practice.

Published in:  on October 24, 2008 at 7:34 am Comments (1)

“Sahabatku Pena”

Denganmu

Aku bisa goreskan sejuta cerita

Luka dan suka kita belai mesra bersama

Walau kau jauh dari bibirku yang terbata

Sampai bisu kan kuresapi warnamu dengan kata

Pesonamu

mampu runtuhkan gunung berselimut senyap

Rasaku padamu masih misteri untuk kuungkap

Jika memang jalanku  bersamamu sampai nanti senja

Biarkan perlahan langkah ku jejakan,

sambil menggenggam harap

(H2C)

Published in:  on October 12, 2008 at 1:15 am Comments (1)

“Menolak Tunduk”

Setan! Iblis! kenapa kau tak juga mau menunduk padaku,

apa karena kau dibuat dari api yang selalu terang dalam gelap sehingga kau merasa mulia dibandingkan aku

yang hanya terbuat dari tanah, yang selalu diinjak-injak oleh kaumku sendiri, selalu menjadi sengketa, juga tempat tumpahnya darah, atas nama  kebebasan, kemerdekaan,…perjuangan…

Setan! Iblis! kenapa hanya kau yang tak mau menunduk sedang para malaikat menunduk untuku

apa harus aku buatmu menunduk dalam sebuah pertempuran abadi kita itu. yang hanya akan memberikan pilihan buat kita jika itu terjadi, kau yang menunduk padaku atau aku yang menunduk untukmu……….

atau mungkin kita bersatu memuja Tuhan, atau melawanNya…….Tidak!

Tuhan berilah aku kekuatan,

perang sudah dimulai, di sini, di bulan ini….

selamat bertempur kawan-kawan, aku akan selalu ada disampingmu………

(sial, batal puasa gw ini hari)

Published in:  on September 4, 2008 at 3:55 pm Comments (2)

“Padam Bergilir”

kuraih sebatang lilin om Chrisye

kuraba pemantik api dalam gelapnya ruang 4×4m persegi

terpercik api dari pemantik,

kudekatkan jilatan lidah api  ke sumbu lilin, kemudian

cahaya renungan membawaku pergi,

pergi dari busuknya dunia, pergi dari kemunafikan,

pergi dari semua hingar-bingar, pergi dan bersembunyi,

sampai akhirnya terlintas gundah dalam hati,

Bangsat! mati lampu………

Published in:  on at 3:43 pm Comments (2)